If You Like This Post, Share it With Your Friends

Membangun Kebiasaaan untuk Mencapai Kesuksesan.

22 Jul 2015 - 15:59 WIB

Kali ini saya yang belum sukses tapi sok sukses ini dan kadang sok menjadi orang tua (ngomong apasih? :v  ) akan menyampaikan sedikit unek-unek saya tentang Kesuksesan.

Anda mau sukses? anda mau saudara anda sukses? YA. Absolutely YES! Saya juga ingin sukses.
Langsung saja…

 

Menurut KBBI, beginilah defenisi dari kesuksesan : /ke·suk·ses·an/ n keberhasilan; keberuntungan:
Sukses/Kesuksesan adalah keinginan semua orang, hampir tidak ada orang yang tidak ingin sukses (barangkali orang gila saja).
Keinginan untuk sukses di berbagai aspek kehidupan, seperti sukses dalam kuliah, pekerjaan, keluarga, dll.
Selain diri kita sendiri tentunya ada orang tua yang sangat menginginkan kesuksesan terhadap kita yaitu anaknya.
Bagaimana tidak dari kecil kita dibimbing dan diajari bagaimana menjadi orang baik ya sudah barang tentu tidak lain
dan tidak bukan adalah karena orang tua ingin anaknya sukses.

Orang tua bekerja untuk membiayai pendidikan kita baik itu untuk pendidikan formal (di sekolah) maupun informal (les,ekstrakurikuler,dll).

Sukses bukan datang secara instan seperti ind*mie (itu juga harus direbus dulu hehe..). Sukses dibangun sejak kecil dari kebiasaan-kebiasaan kecil
di rumah (didikan orang tua) bukan dari sekolah atau tempat kursus. Di masa modern ini kebanyakan orang tua lebih sibuk bekerja daripada memperhatikan
anak-anaknya, lupa mendidik dan mengajari anak-anak mereka dengan hal-hal kecil baik tentunya yang merupakan dasar untuk kebisaan sukses anak di masa deapn.

***

Ada beberapa hal-hal kecil yang menurut saya dilupakan atau “tidak sengaja” dilupakan untuk diajarkan kepada anak-anak.

-Orang tua tidak mengajari anak bagaimana menjadi orang yang cakap serta terampil dalam mendapatkan sesuatu (kenikmatan).
Menyebabkan anak-anak jaman sekarang lebih mengutamakan pemenuhan keinginan daripada kebutuhan. Ya atau tidak? iya sajalah.
Orang tua merasa cukup mengganti perhatian kepada anak-anak dengan pemnenuhan materi,benda,uang, dll.

-Orang tua sering mengajarkan atau “tidak sengaja” atau tidak sadar (bukan pingsan wkwkwk) mengajarkan kepada anak-anak untuk berbohong dan tidak jujur.
Misalnya saat menerima telepon menyuruh mengatakan kalau orang tuanya tidak ada, atau mengerjakan tugas/project sekolah anak.
Menghukum dan terlalu keras terhadap anak sehingga memaksa anak untuk berbohong untuk menghindari disalahkan oleh orang tuanya.

-Orang tua tidak mengajarkan kepada anak bagaimana susahnya bekerja dan mendapatkan kenikmatan itu sendiri.
Pola pikir ini bisa saja disebabkan karena orang tua dulunya hidup susah (hanya makan ubi dan ikan asin) berusaha menebusnya
dengan memberikan anak pemenuhan keinginan yang berlebih.

-Orang tua tidak mengajari anak keterampilan berkomunikasi dengan baik.
Mengira anak bisa berbicara sudah cukup adalah hal yang salah, karena kemampuan komunikasi yang baik ini mekiputi kemampuan mendengar, memahami, menganalisis,
serta memberikan tanggapan yang sesuai. Menguasai bahasa serta dapat berbicara lancar adalah berbeda dengan mampu berkomunikasi dengan terampil, YES!!!

- Orang tua tidak mengajari anak untuk mandiri.
Beberapa orang tua menyediakan pengasuh atau pembantu yang saya rasa tidak cukup perlu, dimana beberapa pekerjaan kecil yang bisa dilakukan sendiri oleh anak akan\
diambil alih oleh pembantu. Misalkan merapikan tempat tidur, mengambil tas atau sepatu, menyiapkan buku, bahkan memasang tali sepatu adalah hal kecil yang bisa dilakukan sendiri oleh anak
mereka. Sedangkan kemandirian bukanlah hal instan, tetapi didapatkan dari kegiatan yang berulang-ulang.

- Orang tua tidak mengajari anak dalam mengelola keuangannya sendiri, hidup hemat (tapi bukan pelit/kikir).
Bagaimana cara mengggunakan uang secara wajar, menentukan prioritas serta membedakan kebutuhan dan keinginan adalah pelajaran dasar dari mengenal uang dan mengelola keuangan.
Anak minta apa selalu dibelikan, sehingga dapat menimbulkan sikap boros terhadap anak.

- Orang tua jarang mengajari anak kebisaan membaca buku.Seperti pepatah mengatakan Leaders are Readers, membaca adalah kebiasaan yang cukup baik dan penting untuk melatih kemampuan anak

menjadi orang sukses serta menjadi seorang yang selalu belajar.

Mungkin masih banyak lagi, silahkan anda tambahkan di komentar. hehe 

Sekianlah opini dari saya yang lumayan ini, lumayan kan? ya iya lumayanlah daripada gak lumayanlah.

saya bukan menyalahkan orang tua atau anak disini.
Yang saya harapkan adalah kepada pembaca yang sudah menjadi orang tua dan yang masih jadi calon orang tua (saya sendiri wkwk),
agar menyadari kalau kesuksesan itu bisa dibangun dari kebiasaan sejak kecil dari hal-hal sederhana.

BIASAKAN YANG BENAR, JANGAN BENARKAN KEBIASAAN!


TAGS   Sukses / membangun kesuksesan / kunci sukses / Orangtua dan anak / mendidik anak / membiasakan sukses /


Who Am I?

Dani Royman Simanjuntak
@danijuntak
Karyawan IT sekaligus mahasiswa IT atau sebaliknya, still newbie, belajar belajar dan belajar... never stop dreaming, never stop learning.. HORAS... HORAS... HORAS!!!!

Terbaru

Recent Comment

Arsip